66 Penerbangan Tambahan Disiapkan ke Lombok untuk MotoGP Mandalika 2026
NAVIGASI.CO.ID — InJourney Airports menyiapkan 66 penerbangan tambahan ke Bandara Internasional Lombok untuk melayani lonjakan penonton Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 pada 9-11 Oktober. Tambahan kapasitas kursi udara itu terdiri atas 48 penerbangan ekstra, 11 charter, empat penggantian pesawat berbadan lebih besar, serta tiga positioning flight.
PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney memperkuat kolaborasi lintas kementerian, lembaga, BUMN, dan pemerintah daerah demi keberlanjutan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026. Ajang balap itu dijadwalkan berlangsung di Pertamina Mandalika International Circuit pada 9-11 Oktober 2026.
Koordinasi dibahas dalam pertemuan bersama Badan Pengelola BUMN, Danantara Indonesia, Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, Kementerian Keuangan RI, serta MotoGP Sports Entertainment Group selaku pemegang hak komersial MotoGP.
Konektivitas Udara dan Okupansi Menjelang Balapan
InJourney Airports mencatat 66 penerbangan tambahan di Bandara Internasional Lombok untuk mendukung peningkatan kapasitas kursi angkutan udara. Rinciannya, 48 penerbangan tambahan, 11 penerbangan sewa (charter), empat penerbangan dengan penggantian pesawat berukuran lebih besar, dan tiga positioning flight.
Tingkat hunian akomodasi di sekitar Mandalika mendekati 100 persen menjelang penyelenggaraan event. Lonjakan ini menuntut kesiapan moda transportasi darat, laut, dan udara menuju kawasan wisata NTB.
Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menyebut MotoGP Mandalika sebagai bagian strategi menjadikan event internasional sebagai katalis pengembangan destinasi. Menurutnya, yang dibangun bukan sekadar tiga hari balapan.
"MotoGP Mandalika bukan sekedar tiga hari balapan. Namun lebih dari itu, yang kita bangun adalah legacy untuk Indonesia dan event ini menjadi katalis untuk mengembangkan destinasi, memperkuat konektivitas, menggerakkan ekonomi lokal, sekaligus membawa Indonesia dan Mandalika ke panggung global," ujar Maya.
Dampak Ekonomi dan Serapan Tenaga Kerja Lokal
Dampak ekonomi dari gelaran MotoGP di Mandalika diperkirakan mencapai hampir Rp5 triliun. Ekosistem penyelenggaraan menyerap hingga 3.000 tenaga kerja lokal dan sekitar 600 UMKM.
Efek berganda terasa pada aktivitas akomodasi, kuliner, transportasi, perdagangan, hingga sektor pariwisata lain. Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menilai lima tahun terakhir gelaran ini mengubah ekosistem pariwisata NTB secara nyata.
"Trafik menuju Mandalika terus berkembang, diikuti pertumbuhan hotel, restoran, penerbangan, dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya. Ini menunjukkan bahwa sebuah event internasional dapat menjadi katalis yang mendorong pertumbuhan ekosistem secara lebih luas," papar Dony.
Deputy CEO MotoGP Sports Entertainment Group, Carlos Ezpeleta, menilai Indonesia punya posisi strategis bagi perkembangan MotoGP di Asia. Basis penggemar besar dan penjualan tiket yang tinggi menjadi kekuatan utama keberlanjutan ajang ini.
"Indonesia merupakan pasar yang sangat penting bagi MotoGP. Besarnya antusiasme penggemar, termasuk tingginya penjualan tiket, menunjukkan bahwa Indonesia memiliki basis penggemar yang kuat. Kami melihat potensi yang besar untuk terus mengembangkan MotoGP di Indonesia, tidak hanya dari sisi olahraga, tetapi juga dari sisi ekonomi dan pariwisata," ujar Carlos.
Rekor Penonton dan Panggung Global
Sejak 2022, animo publik terhadap Pertamina Grand Prix of Indonesia yang kini memasuki tahun kelima terus meningkat. Pada 2023 jumlah penonton mencapai 102.929 orang, naik menjadi 121.252 orang pada 2024, dan mencetak rekor 140.324 penonton pada 2025.
Dengan basis lebih dari 632 juta penggemar MotoGP global dan jangkauan siaran hampir 200 negara, setiap penyelenggaraan menjadi etalase Indonesia kepada dunia. Eksposur itu membuka peluang promosi destinasi wisata, budaya, ekonomi kreatif, dan UMKM.
Ekosistem Mandalika juga melahirkan pembalap muda Indonesia seperti Mario Suryo Aji di kelas Moto2 dan Veda Ega Pratama di kelas Moto3. Sebanyak 380 marshal NTB telah memperoleh kompetensi berstandar internasional Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM), dengan sebagian mendapat kesempatan bertugas pada event balap luar negeri.