50 Titik Panas di Pelalawan Dominasi Hotspot Riau, BMKG Catat Penurunan Jadi 67 pada Kamis Pagi
PEKANBARU — Penurunan jumlah titik panas di Riau tidak serta merta meredakan kekhawatiran akan kebakaran hutan dan lahan. Data BMKG Pekanbaru pada Kamis pagi menunjukkan 67 titik panas masih menyebar di sejumlah kabupaten, dan Pelalawan masih menjadi wilayah dengan konsentrasi tertinggi.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Putri Santy S, merinci dari total 67 titik tersebut, Kabupaten Pelalawan tercatat memiliki 50 titik panas. Angka ini jauh meninggalkan daerah lain seperti Indragiri Hulu yang terpantau sembilan titik dan Indragiri Hilir dengan enam titik.
Konsentrasi Api Masih Bertumpu di Pelalawan
Dengan 50 titik, Pelalawan menyumbang sebagian besar hotspot yang terdeteksi di Riau. Dua kabupaten lainnya, Rokan Hulu dan Rokan Hilir, masing-masing mencatat satu titik panas pada pemantauan kali ini.
"Pelalawan terpantau memiliki 50 hotspot. Kemudian Kabupaten Indragiri Hulu sembilan titik, Indragiri Hilir enam titik, serta Rokan Hulu dan Rokan Hilir masing-masing satu titik," ujar Putri.
Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan karhutla perlu diperkuat secara spesifik di wilayah Pelalawan, mengingat hampir seluruh titik api di provinsi ini terkonsentrasi di daerah tersebut.
Riau Bukan yang Terparah di Sumatera
Meski mendominasi hotspot di Riau, secara regional angka 67 titik tersebut masih di bawah beberapa provinsi lain di Sumatera. Total titik panas di Pulau Sumatera mencapai 863 titik pada periode yang sama.
Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 271 titik. Disusul Bangka Belitung dengan 183 titik, Jambi 118 titik, dan Aceh 107 titik. Sementara itu, Lampung mencatat 84 titik, Riau 67 titik, Bengkulu 13 titik, Kepulauan Riau delapan titik, Sumatera Utara tujuh titik, dan Sumatera Barat lima titik.
Penurunan jumlah hotspot di Riau dari 87 menjadi 67 titik dalam sehari menjadi perkembangan positif dalam pemantauan potensi karhutla. Namun, konsentrasi api yang masih tinggi di Pelalawan tetap menjadi sinyal bahaya yang tidak bisa diabaikan.
Imbauan untuk Masyarakat dan Risiko Karhutla
BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan. Aktivitas pembakaran lahan disebut sebagai pemicu utama yang dapat memperluas area terdampak.
"Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla dan tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan yang dapat memicu meluasnya kebakaran," tegas Putri.
Pemantauan titik panas ini menjadi indikator awal yang krusial bagi pemerintah daerah dan instansi terkait untuk bergerak cepat melakukan patroli darat maupun udara, terutama di titik-titik rawan di Kabupaten Pelalawan.